Termasuk akhlak yang diajarkan dalam Islam: menjaga perasaan orang lain, di antaranya dengan cara tidak mencela keluarganya yang telah wafat.
لا تؤذوا الأحياء بسبِّ الأموات
“Janganlah kalian menyakiti yang masih hidup dengan mencela yang telah meninggal.” [Ref.: Tarikh Dimasyq, vol. XLI, hlm. 67.]
Riwayat ini dinilai sebagai mursal yang sahih oleh Al-Albani, karena ada penguat dari hadis al-Mughirah. [Ref.: Silsilah al-Ahadits al-Shahihah, penjelasan hadis no. 2397, dan al-Dha’ifah, penjelasan hadis no. 6234]
Catatan Tambahan:
Terdapat riwayat yang redaksinya mirip dengan itu yang diriwayatkan oleh al-Waqidi dalam al-Maghazi, yang kemudian diriwayatkan pula oleh al-Hakim melalui jalurnya itu dalam al-Mustadrak, juga al-Baihaqi dalam al-Madkhal dan Ibn ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq. Redaksinya:
يَأْتِيكُمْ عِكْرِمَةُ بْنُ أَبِي جَهْلٍ مُؤْمِناً مُهَاجِراً، فَلَا تَسُبّوا أَبَاهُ فَإِنّ سَبّ الْمَيّتِ يُؤْذِي الْحَيّ، وَلَا يَبْلُغُ الْمَيّت
“Kalian akan didatangi oleh ‘Ikrimah bin Abu Jahl dengan kondisi sebagai seorang mukmin yang berhijrah, maka janganlah kalian mencela ayahnya (Abu Jahl), karena mencela yang meninggal itu menyakiti yang hidup, serta tidak sampai kepada yang meninggal.”
Riwayat kedua ini dihukumi palsu oleh al-Albani. Sebab al-Waqidi seorang rawi yang matruk, sementara gurunya, Ibn Abi Sabrah, tertuduh sebagai pemalsu hadis. Al-Dzahabi, al-Hakim dan al-Baihaqi tidak mengomentari riwayat ini (kemungkinan besar) karena sangat tampak kelemahannya, bahkan kepalsuannya. Demikian menurut al-Albani. [Ref.: Silsilah al-Ahadits al-Dha’ifah, no. 6234.]
09/02/2021
Cak AdniKu
══ •◇ ✿ ❀ ✿ ◇• ══
📞 WA Group: bit.ly/faidahringkas
📋 Telegram: t.me/faidahringkas
🌐 Blog: adniku.blogspot.com
📷 IG: instagram.com/adniku
🎙 Twitter: twitter.com/adniku
📱 FB: facebook.com/adni.ku
Post a Comment